Setelah mengalami konflik bingung mau post apa biar blog ini tidak terkesan mati suri dan penulisnya masih hidup. Maka jadilah saya iseng post tulisan ini karena dapat idenya baru hari ini, ralat! siang ini.
Well, saya sudah balik ke Jogja lebih awal lho! ya 2 hari yang lalu saya sudah mendarat cantik di kamar kos saya yang kata ibu saya, "mbak, waktu ibu kuliah dulu kamarnya tidak sepenuh ini lho, di beresin ya mbak". Saya hanya mengangguk, perintahnya akan saya laksanakan tapi entah kapan ya buk :3. Saya benar-benar jobless banget di kosan, paling ke kampus ngumpulin slip remed terus jalan ke mal kalau ada duit ya beli, kalau nggak ada ya udah jalan aja biar keliatan sosialisasinya kan?.
Oke, saya tidak akan berbasa-basi lama dengan post ini. Saya capek basa-basi.
Jadi, tadi siang saya dan teman kos saya yang kebetulan juga datang lebih awal karena ada remed besok. Kami berdua sepakat cari makan siang (yang mungkin bagi saya sekaligus sarapan karena belum) di gang seberang jalan kampus. Kami pun naik motor dia, lalu setibanya di warung lesehan kami segera memesan. Kalau saya boleh cerita, warung lesehan tadi benar-benar suasana desa banget lho! di pinggirnya aja sawah hehehe. Saya ndak sebut nama tepat ya, biar nanti ndak menyinggung juga. Setelah selesai mencatat pesanan masing-masing, kami pun terlibat percakapan yang saya anggap cukup berat untuk kalangan mahasiswa seperti kami.
Mulanya begini, dia menceritakan tentang kosnya yang baru. Dia awalnya satu kos dengan saya, tapi karena beberapa alasan yang tidak bisa saya jelaskan disini, akhirnya dia memutuskan untuk move on eh maksud saya pindah kosan. (no baper please). Saya sedikit review, jadi di kos saya ada enam orang teman yang satu jurusan dengan saya, namun mereka semua memutuskan untuk pindah dan meninggalkan saya sendiri (lebay ah). Lalu dia cerita, salah satu teman kami yang juga di kos yang sama, dia menempati kamar exclusive di kos yang baru. Harganya ya kira-kira dapat lah seonggok motor saya tercinta hehehe. Untuk ukuran mahasiswa jurusan saya, yang notabene orangtuanya juga lumayan lah pekerjaannya sebagai wiraswasta di salah satu kota di Jawa Tengah, itu sudah termasuk luar biasa bukan?. Katanya sih kamar kosnya berisi, padahal dia juga punya barang sendiri, jadilah barang yang dia miliki double date *eh salah, double things. Alhamdulillah, semoga betah ya bathin saya dalam hati sembari berpikir, saya tidak tega kalau itu orang tua saya .____. . Yang lebih parah lagi, teman saya tadi juga cerita kalau teman saya ini mendapat kendaraan pribadi sebagai hadiah ulangtahunnya, wah selamat ya! semoga berkah, bathin saya lagi hehehe. Saya kaget, saya kira hidupnya sederhana lho .____. ya bukan maksud saya judge dia dari cover ya. Tapi penilaian pertama saya ketika kenal dia setahun lalu, saya pikir dia jauh dari kesan mewah. Sekali lagi, life changes, time goes by, so it does. Saya cuma bisa berdoa saja semoga apa yang dimilikinya saat ini, tetap menjadikan dia pribadi yang membumi alias tidak lupa daratan ya nak!. Ingat, kita dulu ber-empat pernah jalan kaki demi mencari sesuap nasi :3 sekarang kita sudah beda, saya setia dengan motor bebek saya aja lah. Saya masih pengen jalan keliling Jogja dengan motor meski saya pernah kesasar dua kali tanpa bantuan GPS di daerah pegunungan *oke ini aib -___-.
Saya cuma bisa bilang, selagi masih muda, masih mahasiswa, kalau masih bisa hidup sederhana mengapa tidak?. Bukankah mahasiswa adalah agent of change?. Belajar, berorganisasi, aktualisasi diri dan rutinitas lainnya adalah makanan kami sehari-hari.
Jadi, nikmati wae lah uripmu sing saiki nduk! urip mung mampir wae ning dunia iki, sesuk yen awakmu wes wayahe, ora ana sing digawa to yo.
Baiklah, begitu yang dapat saya ceritakan. Maaf tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun yang secara tidak sengaja membaca tulisan ini.
Semoga kita semua tetap menjadi pribadi yang sederhana, apa adanya.
Jadi, nikmati wae lah uripmu sing saiki nduk! urip mung mampir wae ning dunia iki, sesuk yen awakmu wes wayahe, ora ana sing digawa to yo.
Baiklah, begitu yang dapat saya ceritakan. Maaf tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun yang secara tidak sengaja membaca tulisan ini.
Semoga kita semua tetap menjadi pribadi yang sederhana, apa adanya.
