Dec 19, 2013

Apel Terakhir Untuk Umi



Apel Terakhir Untuk Umi
by: A.D.F.W
Hai teman-teman, panggil saja aku Aisyah. Aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Abiku bernama Abdullah Hasan, sedangkan Umiku bernama Siti Zahrah. Sementara itu nama adik-adikku berurutan yaitu Umar,Laila dan si bungsu Nadya. Kami adalah keluarga sederhana dari segi ekonomi tapi aku yakin keluargaku termasuk golongan yang taat beribadah kepada Allah.
Seperti biasa aku,Umar dan Laila mengayuh sepeda menuju ke sekolah kami masing-masing. Sementara si kecil tetap di rumah sebab usianya baru menginjak 3 tahun. Umi sangat mengasihi dan menyanyangi keempat anaknya tak heran jika sedikit saja kami mengalami musibah semisal jatuh atau sakit Umi dengan sigap mengobati kami. Bagiku Umi adalah dokter yang tidak perlu membayar dengan uang. Cukup dengan ucapan terima kasih dan kecupan di kedua pipinya maka ia akan membalasnya dengan senyuman. Sungguh beruntung aku memiliki Umi seperti sosoknya.

Nov 25, 2013

Dedikasi di Dunia Edikasi




Hayooo siapa yang tahu ada apa dengan hari ini?. Bukan ada apa dengan hari Senin ya. Namun, ada apa di setiap tanggal 25 November?. Mungkin bagi kalian yang peduli atau bahkan hafal dengan peringatan hari-hari besar di negara kita pastilah tau. Langsung saja, daripada kalian nanti jengkel dengan tulisan saya.
Well, setiap tanggal 25 November PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) merayakan ulang tahunnya. Notice that yang bisa merayakan ulang tahun itu tidak hanya secara personal. Sebab setiap organisasi, ikatan, persatuan, komunitas, paguyuban dan sebangsanya juga memiliki hari ulang tahun atau yang lebih gaul dengan kata anniversary. Waduh, kayak pasangan suami istri saja ya hehe.
Masuk ke inti tulisan ini, sebetulnya bagi kalian yang sedang memfokuskan kedua bola matanya ke arah tulisanku ini. Bagaimana menurut kalian dengan bapak-ibu guru yang hampir 8 jam kalian temui di sekolah (bagi yang SMA ya), dan bagi semua guru di setiap jenjang pendidikan dari PAUD – TK – SD – SMP. Mungkin kalian pernah mencetuskan statement yang kurang pantas bagi beliau. Seperti “guru iki lho gaenak rek nek ngajar”. “guru iki ngajar ta ndongeng sih” dan masih banyak ungkapan lain yang tak mungkin diceritakan semua. Nah, bagaimana perasaan kalian setelah melontarkan kalimat-kalimat bernada jengkel dan penuh ketidaksukaan itu?. Puaskah kalian atau malah merasa menyesal?. Lalu, apakah kalian juga memikirkan perasaan mereka akibat perkataan kalian?. Cobalah kalian pikir, guru di sekolah itu adalah sebagai pengganti orang tua kita di rumah. Jadi, bukankah tidak sewajarnya kita membentak, mengecap, menciptakan masalah yang membuat nama baik guru kalian tercemar. Tidakkah kalian mengerti.