Sep 18, 2014

At First, Loving Yourself !

Hai senior time!. Ketemu lagi dengan tingkat akhir menjelang sirnanya status “siswa” ini. Bagaimana rasanya kawan?Melelahkan, menjemukan, menyakitkan hahaha entah diksi apa lagi yang harus aku gunakan untuk memaparkan keluhan kita semua, benar?. Dunia masih terus berputar. Begitu juga kita. Harus menikmati masa akhir di S-M-A. Mungkin bagi sebagian dari teman saya kalian merasa kehampaan kini menjadi karib terbaik. Bagaimana tidak di kelas yang tlah lalu kita begitu menikmati menjadi organisator di sekolah dan seakan muncul paradigma bahwa sekolah adalah rumah kedua kita, betul tidak? Hehehe. Tak dapat dielakkan lagi. Semua yang tlah berlalu takkan bisa terulang lagi. Itu pula yang kita alami sekarang. Kita merasa sepi dan sunyi kala semua hal yang kita dulu genggam indah satu per satu terbang dan menghilang.
Tapi mungkin tidak semua dari kalian yang merasa kesepian. Aku jamin untuk yang satu ini. Mengapa aku berani sebut ini?. Hey lihatlah kalian tidak merasa kesepian di masa akhir abu-abu putih ini. Kalian punya siapa di sisi kalian?. Hahaha pacar!. Diksi yang sangat mengudara di telingaku beberapa bulan ini. Duniaku tersentak kaget kala tahu dengan berakhirnya masa organisasi kita, mulailah masa relasi kita. Klik! Aku ingin tertawa kawan!. Maafkan aku. Untuk berapa lama sudah kalian saling menyembunyikan perasaan kalian?. Entahlah aku tak perlu ambil pusing menyoal itu. Yang jelas aku bisa merasakan apa yang sedang kalian rasakan. Hahaha because I ever feel the same. Tingkat akhir SMP punya pasangan. Hasilnya every single thing gets bad! Nilai jatuh. Hahaa lupakan itu. Mungkin sekarang aku begitu sensitif mendengar situasi yang tak asing bagiku ini. Mereka yang dulu ku kira akan berprinsip dan berfokus pada impiannya di tengah jalan justru melengah. Kalau kata masyarakat umum, gampang tergoda imannya. Do you feel it, guys?. Aku gatal sekali ingin bertanya bagaimana rasanya punya pasangan namun punya banyak kewajiban yang juga membutuhkan perhatian kalian sama seperti perhatian buat si dia. Aku tidak yakin everything has well-managed. Aku saja yang membuat plan setiap minggu terkadang masih berantakan. Hehehe.

Aku penasaran apakah pikiran kalian lantas tak terpecah-pecah?. Oke, kalian bisa mengelak pernyataanku ini. Tapi realitas itu kejam, terkadang. “Aku pacaran untuk semangat belajar kok”, “Untuk motivasi” dan segala alibi lainnya. Cukup! Aku bosan dengan kebisingan ini. Tidakkah kalian sadari bagaimana nantinya?. Oke, saat ini kalian merasa adem-ayem-tentrem saja. Tapi nanti?Aku menjadi korban sendiri bagaimana rasanya impianku harus melayang hilang begitu saja. Mungkin itu teguran Allah. Ah sekali lagi lupakan masalah itu.
Sekarang, apakah mempunyai pasangan itu prioritas utama sebagai siswa?. Jawabannya tentulah bukan. Kalian masih muda. Masih punya masa depan yang perlu perencanaan matang. Hari esok masih terlalu indah untuk dihabiskan walaupun sendirian. Sejujurnya aku iri dengan kalian yang bisa begitu senangnya menikmati semua kebahagiaan sesaat ini. Berikrar seadanya. Entah itu terjadi atau tidak kelak. Tapi aku mencoba menahan diriku untuk tidak kembali terjerembab ke tempat itu lagi. Bolehlah aku, kalian, kita semua menyukai lawan jenis. It’s normal cause we are human being, aren’t we?. Tetapi jangan sampai mengalahkan rasa cinta kalian kepada Allah, kedua orang tua kalian, yang terpenting itu.
Lalu bagaimana mengantisipasi kesepian yang tertanam subur ini?. Caraku adalah cobalah untuk mencintai diri kalian sendiri. Buatlah diri kalian setiap hari selalu merasa jatuh cinta. Hey! Jatuh cinta itu general. Tidak harus mencintai lawan jenis. Cintailah dirimu sendiri! Keistimewaan yang melekat dalam dirimu yang mungkin takkan bisa disamakan dengan orang lain. Cobalah untuk bertahan menerjang kerasnya hidup ini kawan. Aku tahu rasa iri itu menyakitkan. Tapi coba tanamkan pemikiran ini, Allah akan menyiapkan segala sesuatunya yang lebih indah untuk kita bila saat itu tiba. Entahlah kalian percaya atau tidak jodoh itu tidak hanya urusan Allah. Tapi juga kita. Jadi bukan takdir yang berperan. Hehe. Ingatlah, fokus pada apa yang sedang kalian kerjakan, hadapi setiap waktu yang tidak mungkin terulang. Dan buat mereka, teman-temanku yang sudah lebih dulu memastikan dirinya berikrar, persiapkanlah diri kalian untuk kemungkinan terburuk. Dan jangan lupa bangkitlah setelahnya. Hidup ini terlalu berharga untuk hanya kalian habiskan dengan tangisan untuk pasangan. Menangislah hanya ketika kalian merasa gagal dalam bekerja, merasa kalah dalam melawan egoisme diri, dan yang lebih kronis menangislah ketika kalian merasa kehilangan tujuan hidup. Aku sering melakukan hal ini. Dan setelah selesai, aku merasa lega.
Pesanku, ini memang hanya sekedar pendapat seorang siswa. Mungkin ada yang pro dan kontra dengan tulisan ini. Tak masalah. Once more, we are human being. Tapi semoga kalian dapat meresapi makna yang tersampaikan disini.

A good day to all of us!
Love your self guys.

Amalia.


No comments:

Post a Comment