Hai senior time!. Ketemu lagi dengan tingkat akhir menjelang sirnanya
status “siswa” ini. Bagaimana rasanya kawan?Melelahkan, menjemukan, menyakitkan
hahaha entah diksi apa lagi yang harus aku gunakan untuk memaparkan keluhan
kita semua, benar?. Dunia masih terus berputar. Begitu juga kita. Harus
menikmati masa akhir di S-M-A. Mungkin bagi sebagian dari teman saya kalian
merasa kehampaan kini menjadi karib terbaik. Bagaimana tidak di kelas yang tlah
lalu kita begitu menikmati menjadi organisator di sekolah dan seakan muncul
paradigma bahwa sekolah adalah rumah kedua kita, betul tidak? Hehehe. Tak dapat
dielakkan lagi. Semua yang tlah berlalu takkan bisa terulang lagi. Itu pula
yang kita alami sekarang. Kita merasa sepi dan sunyi kala semua hal yang kita
dulu genggam indah satu per satu terbang dan menghilang.
Tapi mungkin tidak semua dari kalian yang merasa kesepian. Aku jamin untuk
yang satu ini. Mengapa aku berani sebut ini?. Hey lihatlah kalian tidak merasa
kesepian di masa akhir abu-abu putih ini. Kalian punya siapa di sisi kalian?.
Hahaha pacar!. Diksi yang sangat mengudara di telingaku beberapa bulan ini.
Duniaku tersentak kaget kala tahu dengan berakhirnya masa organisasi kita,
mulailah masa relasi kita. Klik! Aku ingin tertawa kawan!. Maafkan aku. Untuk
berapa lama sudah kalian saling menyembunyikan perasaan kalian?. Entahlah aku
tak perlu ambil pusing menyoal itu. Yang jelas aku bisa merasakan apa yang
sedang kalian rasakan. Hahaha because I ever feel the same. Tingkat akhir SMP
punya pasangan. Hasilnya every single thing gets bad! Nilai jatuh. Hahaa
lupakan itu. Mungkin sekarang aku begitu sensitif mendengar situasi yang tak
asing bagiku ini. Mereka yang dulu ku kira akan berprinsip dan berfokus pada
impiannya di tengah jalan justru melengah. Kalau kata masyarakat umum, gampang
tergoda imannya. Do you feel it, guys?. Aku gatal sekali ingin bertanya
bagaimana rasanya punya pasangan namun punya banyak kewajiban yang juga
membutuhkan perhatian kalian sama seperti perhatian buat si dia. Aku tidak
yakin everything has well-managed. Aku saja yang membuat plan setiap minggu
terkadang masih berantakan. Hehehe.
Aku penasaran apakah pikiran kalian lantas tak terpecah-pecah?. Oke, kalian
bisa mengelak pernyataanku ini. Tapi realitas itu kejam, terkadang. “Aku pacaran
untuk semangat belajar kok”, “Untuk motivasi” dan segala alibi lainnya. Cukup!
Aku bosan dengan kebisingan ini. Tidakkah kalian sadari bagaimana nantinya?.
Oke, saat ini kalian merasa adem-ayem-tentrem saja. Tapi nanti?Aku menjadi
korban sendiri bagaimana rasanya impianku harus melayang hilang begitu saja.
Mungkin itu teguran Allah. Ah sekali lagi lupakan masalah itu.
Sekarang, apakah mempunyai pasangan itu prioritas utama sebagai siswa?.
Jawabannya tentulah bukan. Kalian masih muda. Masih punya masa depan yang perlu
perencanaan matang. Hari esok masih terlalu indah untuk dihabiskan walaupun
sendirian. Sejujurnya aku iri dengan kalian yang bisa begitu senangnya
menikmati semua kebahagiaan sesaat ini. Berikrar seadanya. Entah itu terjadi
atau tidak kelak. Tapi aku mencoba menahan diriku untuk tidak kembali
terjerembab ke tempat itu lagi. Bolehlah aku, kalian, kita semua menyukai lawan
jenis. It’s normal cause we are human being, aren’t we?. Tetapi jangan sampai
mengalahkan rasa cinta kalian kepada Allah, kedua orang tua kalian, yang
terpenting itu.
Lalu bagaimana mengantisipasi kesepian yang tertanam subur ini?. Caraku
adalah cobalah untuk mencintai diri kalian sendiri. Buatlah diri kalian setiap
hari selalu merasa jatuh cinta. Hey! Jatuh cinta itu general. Tidak harus
mencintai lawan jenis. Cintailah dirimu sendiri! Keistimewaan yang melekat
dalam dirimu yang mungkin takkan bisa disamakan dengan orang lain. Cobalah
untuk bertahan menerjang kerasnya hidup ini kawan. Aku tahu rasa iri itu
menyakitkan. Tapi coba tanamkan pemikiran ini, Allah akan menyiapkan segala
sesuatunya yang lebih indah untuk kita bila saat itu tiba. Entahlah kalian
percaya atau tidak jodoh itu tidak hanya urusan Allah. Tapi juga kita. Jadi
bukan takdir yang berperan. Hehe. Ingatlah, fokus pada apa yang sedang kalian
kerjakan, hadapi setiap waktu yang tidak mungkin terulang. Dan buat mereka,
teman-temanku yang sudah lebih dulu memastikan dirinya berikrar, persiapkanlah
diri kalian untuk kemungkinan terburuk. Dan jangan lupa bangkitlah setelahnya.
Hidup ini terlalu berharga untuk hanya kalian habiskan dengan tangisan untuk
pasangan. Menangislah hanya ketika kalian merasa gagal dalam bekerja, merasa
kalah dalam melawan egoisme diri, dan yang lebih kronis menangislah ketika
kalian merasa kehilangan tujuan hidup. Aku sering melakukan hal ini. Dan
setelah selesai, aku merasa lega.
Pesanku, ini memang hanya sekedar pendapat seorang siswa. Mungkin ada yang
pro dan kontra dengan tulisan ini. Tak masalah. Once more, we are human being.
Tapi semoga kalian dapat meresapi makna yang tersampaikan disini.
A good day to all of us!
Love your self guys.
Amalia.
No comments:
Post a Comment