Lagi . . . . .
Aku baru saja terjatuh lagi
Awalnya ku kira ini mimpi
Tapi buruk yang kurasa
Bak bermain . . . . .
Aku kerap menikmati euforia nirwana
Hingga aku melupa
Aku nyaris berdarah
Tapi itu bukan merah yang kurasa
Melainkan biru . . . . .
Biru yang lebih menyakitkan dari merah,
hitam, kuning, dan warna yang lain
Biru yang kekal keindahannya namun
Kelam juga sebenarnya
Allah . . . . .
Aku harus apa?
Mengapa semakin ramah saja rasa ini menyapa?
Mengapa semakin biru darah dan air mata ini?
Aku ingin menghilang sejenak
Meninggalkan masa penuh kegelapan
Tapi aku tak bisa
Keberadaan biru ini sudah pasti elegi
Sampai kapanpun dirinya kan selalu
Mewarnai alur cerita-Mu untukku, Allah
Membiru haru . . . . .
Aku baru saja terjatuh lagi
Awalnya ku kira ini mimpi
Tapi buruk yang kurasa
Bak bermain . . . . .
Aku kerap menikmati euforia nirwana
Hingga aku melupa
Aku nyaris berdarah
Tapi itu bukan merah yang kurasa
Melainkan biru . . . . .
Biru yang lebih menyakitkan dari merah,
hitam, kuning, dan warna yang lain
Biru yang kekal keindahannya namun
Kelam juga sebenarnya
Allah . . . . .
Aku harus apa?
Mengapa semakin ramah saja rasa ini menyapa?
Mengapa semakin biru darah dan air mata ini?
Aku ingin menghilang sejenak
Meninggalkan masa penuh kegelapan
Tapi aku tak bisa
Keberadaan biru ini sudah pasti elegi
Sampai kapanpun dirinya kan selalu
Mewarnai alur cerita-Mu untukku, Allah
Membiru haru . . . . .
(XII IPA 1. 10-9-2014)
No comments:
Post a Comment